Cium Kaki Orangtua Sebagai Bentuk Hukuman Dari Para Siswa Yang Tawuran

Cium Kaki Orangtua Sebagai Bentuk Hukuman Dari Para Siswa Yang Tawuran : Isak tangis dengan raut wajah penuh penyesalan tergambar dari 21 siswa yang diamankan polisi. Sambil meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi tawuran, para siswa dari beberapa SMA di Kota Tangerang itu menciumi kaki kedua orangtuanya.

Cium Kaki Orangtua Sebagai Bentuk Hukuman Dari Para Siswa Yang Tawuran

Seketika ruang Rupatama Mapolres Tangerang Kota, pada Jumat (1/11) petang itu berubah menjadi hujan isak tangis. Para orangtua tak henti-hentinya mengusap air mata menyaksikan putra mereka mencium tangan lalu bersujud menciumi kaki.

“Bapak ibu maafkan Fadli ya. Fadli janji tak lagi ikut tawuran,” ucap siswa kelas 3 sebuah SMA ini. “Fadli kapok, dan tak akan mengulangi lagi.”

Seketika remaja berusia 17 tahun itu mencium kedua tangan bapak ibunya. Sesaat kemudian Fadli bersujud dan menciumi kedua kaki orangtuanya. “Saya maafkan. Ingat, jangan lagi tawuran. Tinggalkan itu. Saatnya merajut cita-cita mu,” ucap bapaknya terharu.

Sebelumnya para pelajar ini terlibat tawuran dengan siswa lain di Jalan Raya Serang Pasar Cikupa, Tangerang. Dalam ‘perang massal’ itu sejumlah pengendara ketakutan dan berusaha menghindar sehingga antrean panjang kendaraan terjadi di kawasan tersebut.

Beruntung tak berlangsung lama setelah puluhan polisi membubarkan tawuran tersebut. Sebanyak 21 pelajar diamankan dan digelandang ke Mapolres Tangerang Kota.

Kapolres AKBP Sabilul Alif punya cara berbeda dalam menghukum mereka. Dia mengundang Dinas Pendidikan, Satpol PP, dan orangtua serta guru para pelajar yang terlibat tawuran tersebut untuk berdiskusi.

Polisi lalu menghukum para pelajar dengan menyuruh mereka bersujud kepada orangtua masing-masing meminta maaf. “Saya melihat raut kesedihan dari orangtua saat putra mereka sungguh-sunguh memohon maaf,” ujar AKBP Sabilul Alif.

Ia berharap maaf yang disampaikan para pelajar kepada orang tuanya bukan sekadar lip service. “Semoga itu dari nurani para pelajar yang menyesali perbuatannya,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Lukman mengaku terpukul, malu dan merasa bersalah karena peristiwa tawuran pelajar masih terjadi. Dia pun mengajak orang tua dan pihak sekolah bersungguh-sungguh mendidik pelajar.

“Ini pukulan telak bagi kami. Sedih dan kecewa karena pendidikan kita seperti ini,” ujarnya seraya menegaskan, akan memanggil kepala sekolah bersangkutan memintai pertanggungjawaban.

Menurutnya, pihak sekolah tidak bisa lepas tangan atas peristiwa itu. “Kami akan tegas. Bila perlu kami rekomendasikan bagi sekolah swasta yang anak didiknya terlibat tawruan dicabut izinnya. Sedangkan, bagi sekolah negeri, kepala sekolahnya kami mutasikan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *